Pages

Kamis, 13 Oktober 2011

15 Pencetak Gol Dalam Sejarah Piala Dunia

Gol adalah sebuah hal yang paling dinantikan dalam sebuah pertandingan sepak bola. Semenarik apapun sebuah pertandingan sepak bola bakal terasa hambar apabila tidak ada gol yang tercipta. Karena itulah pertandingan sepak bola tanpa gol bisa diibaratkan sayur tanpa garam.
Mencetak gol, merupakan hal yang tidak bisa dikatakan mudah. Perlu kombinasi antara kekuatan dan kecerdikan untuk bisa membobol gawang lawan. Belum lagi harus memiliki mental yang cukup kuat untuk menahan tekanan. Tekanan itu bakal menjadi berlipat ganda di ajang besar, apalagi sekelas Piala Dunia.
Di ajang sepak bola paling akbar di muka bumi tersebut, mencetak gol bukanlah sebuah hal yang mudah. Karena itulah, bnisa dikatakan bahwa para pencetak gol di Piala Dunia adalah orang-orang spesial. Dan inilah 15 orang spesial yang telah menorehkan nama mereka sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
15. Vava (Brazil) 9 gol (1958,1962)
Penyerang tengah Brazil ini merupakan bagian dari Selecao kala mereka memenangi partai puncak Piala Dunia edisi 1958 dan 1962. Dia mencetak total sembilan gol dari 10 pertandingan di dua kali gelaran Piala Dunia itu.
Vava mencetak dua gol di final Piala Dunia 1958 melawan Swedia. Empat tahun lemudian, dia mencetak satu gol di partai final melawan Cekoslovakia. Vava merupakan pemain pertama yang berhasil mencetak gol di dua edisi final Piala Dunia.
14. Christian Vieri (Italia) 9 gol (1998, 2002)
Pada masa kejayaannya, Vieri merupakan mesin gol paling andal bagi Azzurri. Dia berhasil mencetak sembilan gol dari sembilan penampilannya di ajang sepak bola paling akbar di muka bumi tersebut.
Di Piala Dunia 1998, dia mencetak lima gol dari lima kali penampilannya. Sementara, empat tahun kemudian dia mencetak empat gol dalam empat penampilannya.
Sayang, tahun 2006, dia gagal tampil di Piala Dunia karena cedera dan telah pensiun dari timnas. Dengan mundurnya Vieri, Italia disebut telah kehilangan pencetak gol terhebat mereka.
13. Eusebio da Silva Ferreira (Portugal) 9 gol (1966)
Eusebio sesungguhnya lahir di Mozambik. Namun, pemain yang kini berusia 68 tahun ini memilih bermain untuk timnas Portugal. Dia hanya sempat bermain di edisi Piala Dunia 1966. Tapi, jusrtu karena itulah, Eusebio meraih gelar legenda.
Pemain andalan Seleccao ini, mencetak sembilan gol hanya dalam enam pertandingan. Dan, yang terpenting, dia bisa membawa negara tersebut ke putaran semifinal Piala Dunia.
Penampilan terbaik Eusebio kala membawa timnya, yang sempat tertinggal 0-3 dari Korea Utara, di perempat final, lolos ke babajkk semifinal dengan kemenangan 5-3. Dalam laga ini, Eusebio mencetak empat gol.
13. Ademir Marques de Menezes (Brazil) 9 gol (1950)
Ademir hanya tampil di satu edisi Piala Dunia, namun dia telah mampu mengukir namanya sebagai seorang pemain hebat. Sama seperti Eusebio, dia mencetak sembilan gol dalam enam pertandingan.
Ademir, merupakan penyerang yang komplet. Dia memiliki paduan kecepatan, kemampuan melepas tembakan, penyelesaian yang dingin dan kekuatan fisik yang mumpuni.
12. Grzegorz Lato (Polandia) 10 gol (1974, 1978, 1982)
Lato, mencetak tujuh gol di dalam edisi Piala Dunia pertamanya. Di Piala Dunia edisi 1974 tersebut, Lato dianugerahi Trofi Sepatu Emas atas prestasinya tersebut. Di ajang ini, Lato sukses membawa Polandia menempati posisi ketiga.
Empat tahun kemudian, Lato yang berposisi sebagai winger ini, mencetak dua gol. Dia menambahkan sebiji gol pada Piala Dunia terakhirnya di edisi 1982 dan membantu negaranya finish di posisi ketiga.
11. Teofilo Cubillas (Peru) 10 gol (1970, 1978, 1982)
Cubilass merupakan pesepakbola paling hebat dalam sejarah Peru. Dia merupakan inspirator lolosnya negara tersebut ke babak perempat final Piala Dunia 1970. Cubillas sukses mencetak gol dalam seluruh pertandingan Peru di ajang tersebut.
Delapan tahun kemudian, Cubillas mencetak gol bersejarah dalam laga melawan Skotlandia dan membawa negaranya maju ke babak perempat final. Dia kembali mencetak lima gol di Piala Dunia keduanya ini.
Tahun 1982, dia kembali dipanggil memperkuat timnas Peru. Namun, sayang, kali ini dia tak mampu mencetak satu golpun di Piala Dunia.
10. Gary Lineker (Inggris) 10 gol (1986, 1990)
Gary Lineker merupakan salah seorang pesekabola Inggris terhebat. Dia merupakan top skorer Piala Dunia 1986 dengan torehan lima gol, dan menjadi satu-satunya pemain Inggris yang mampu meraih prestasi ini. Di ajang ini, dia juga membantu The Three Lions melaju ke babak perempat final.
Empat tahun kemudian, di Italia, mantan pemain Barcelona ini menceploskan empat gol sepanjang turnamen tersebut. Dia berhasil membawa Inggris melaju ke babak semifinal Piala Dunia.
9. Gabriel Batistuta (Argentina) 10 gol (1994, 1998, 2002)
Penyerang legendaris Argentina ini memiliki tendangan kaki kanan sekeras kanon. Sayangnya, dia salah seorang pemain hebat yang tidak pernah meraih gelar Piala Dunia sepanjang karirnya.
Di laga melawan Yunani di Piala Dunia 1994, dia mencetak hat-trick. Prestasi ini dia ulangi lagi empat tahun kemudian di Piala Dunia Prancis. Kali ini, korban Batgol adalah Jamaika. Sayang, di Piala Dunia 2002, Batigol gagal mencetak prestasi apapun.
8. Helmut Rahn (Jerman Barat) 10 gol (1954, 1958)
Pemain berjuluk " The Cannon from Essen" ini dikenal berkat dua golnya di final Piala Dunia 1954 melawan Hungaria. Dia juga dikenal berkat peranan vitalnya menggalang kekuatan timnas Jerman Barat di laga tersebut.
Empat tahun kemudian, di Swedia, Rahn kembali menjadi bintang. Dia mencetak gol ke gawang Yugoslavia dan menjadi pemain pertama yang mencetak sedikitnya empat gol di dua ajang Piala Dunia berbeda.
7. Jurgen Klinsmann (Jerman) 11 gol (1990, 1994, 1998)
Klinsmann merupakan penyerang subur yang bermain di tiga Piala Dunia berurutan. Di Piala Dunia 1990, legenda Jerman ini mencetak tiga gol dan membawa Jerman Barat memenangi turnamen tersebut.
Di Piala Dunia 1994, Klinsi yang berada di puncak performanya mencetak lima gol. Empat tahun kemudian, di Prancis, dia sukses mencetak tiga gol.
6. Sandor Kocsis (Hungaria) 11 gol (1954)
Kocsis hanya bermain di satu edisi Piala Dunia saja. Namun, dia berhasil menjadi pemain kunci dan mencetak gol dalam seluruh pertandingan tim tersebut. Sayang, Hungaria harus takluk di babak final dari Jerman Barat. Kocsis mencetak dua hat-trick sepanjang turnamen tersebut.
5. Pele (Brazil) 12 gol (1958, 1962, 1966, 1970)
Pele memulai kiprahnya di Piala Dunia 1958 kala masih berusia 17 tahun. Di turnamen tersebut, The King mencetak dua gol di partai final, kala Selecao mengalahkan Swedia. Emat tahun kemudian, Pele gagal bermain bagus. Namun, dia masih mencetak sebuah gol ke gawang Meksiko.
Empat tahun kemudian, Pele juga gagal bersinar di ajang Piala Dunia. Dia nyaris tak bisa melakukan apa-apa karena cedera akibat tebasan beringas pemain belakang lawan.
Namun, bintang Pele kembali bersinar di Piala Dunia 1970. bahkan, dia mencetak sebuah gol ke gawang Italia di partai puncak. Di laga tersebut, Selecao sukses membungkam Azzurri dengan skor 4-1.
4. Just Fontaine (Prancis) 13 gol (1958)
Pemain legendaris Prancis ini hanya bermain di satu edisi Piala Dunia. Namun, hingga saat ini, namanya abadi sebagai top skorer sepanjang masa di satu gelaran Piala Dunia.
Di Piala Dunia 1958, Fontaine bermain di enam pertandingan. Momen yang paling mengagumkan sepanjang karirnya, adalah saat empat kali membobol gawang Jerman Barat.
3. Gerd Mueller (Jerman Barat) 14 gol (1970, 1974)
Mueller kerap disebut sebagai monster di kotak penalti. Dia mencetak 10 gol kala membawa timnya menjadi juara ketiga di Piala Dunia 1970.
Empat tahun kemudian, di Piala Dunia 1974, Mueller mencetak empat gol dan membawa Jerman Barat menjuarai ajang paling bergengsi itu. Di laga puncak turnamen itu, pemain berjuluk 'The Bomber' ini mencetak gol kemenangan Jerman Barat atas Belanda.
2. Miroslav Klose (Jerman) 14 gol (2002, 2006, 2010)
Klose mencetak lima gol di Piala Dunia 2002. Yang hebat, seluruh gol itu dicetak Klose melalui sundulan kepala. Gol-gol pemain kelahiran Polandia ini mampu membawa Jerman ke babak final Piala Dunia.
Di Piala Dunia 2006, Klose kembali mencetak lima gol. Namun, kali ini dia hanya bisa membawa Der Panzer hingga babak semifinal turnamen yang kali ini diadakan di Jerman sendiri.
Empat tahun kemudian, di Afrika Selatan, Klose mencetak emat gol. Dia bahkan sempat digadang-gadang bakal melampaui rekor Ronaldo. Sayang, cedera menghalanginya tampil di babak semifinal dan perebutan posisi ketiga.
1. Ronaldo (Brazil) 15 gol (1994, 1998, 2002, 2006)
Penyerang legendaris Selecao ini memenangi Piala Dunia 1994 ketika dia masih berusia belasan tahun. Empat tahun kemudian, Ronaldo menjadi pusat kekuatan Brazil kala mereka mencapai partai puncak Piala Dunia. Sayang, di final,Ronaldo harus absen akibat tersedak. Alhasil, mereka harus bertekuk lutut dari tuan rumah, Prancis.
Tahun 2002, Ronaldo mengamuk, dia mencetak delapan gol di turnamen yang untuk pertama kalinya diadakan di Asia tersebut. Bahkan, dia mencetak dua gol di partai puncak untuk mengalahkan Jerman, dan membawa trofi Piala Dunia ke Brazil.
Tahun 2006, dia kembali mencetak gol. Namun, dia gagal membawa Brazil mempertahankan gelar juara mereka.

Senin, 10 Oktober 2011

PUISI SEPAK BOLA


PUISI SEPAK BOLA
Walau keringat bercucuran membasahi tubuh
Tak akan bisa hentikan jiwa dan semangat
Dalam arena permainan penuh wahana

Dengan sege lintir gumpalan gas berbaju
Kaki mainkan penuh gairah
Mencoba lewati lawan yang menghadang

Dengan dua buah tiang diusudut lapang
Benda rongsok pun jadi bila tak ada
Untuk jadikan sasaran dari permainan

Panas mentari tidak bisa hentikan
Hujan  dras tak bisa memadamkan
Semangat dari permainan nomor satu di dunia
Gairah dari permaianan semua insan di di muka bumi
Sepak bola itulah namanya
Negeri ratu Elizabets pencetusnya
Piala Dunia panngung terbesarnya
Liga Itali kompetisi terbaiknya
Indonesia pun ikut terjamah

Tidak cuma kaki yang bergerak
Pikiran dan jiwapun ikut bermain
Menciptakan sensasi dan sportivitas
Mewujudkan keindahan dan kesatuan rasa

Sepakbola itulah namanya
Tidak hanya milik para bangsawan
Orang  jlata pun  bisa  merasakan
Sepak bola adalah universal
Sepak bola itulah namanya
Tidak hanya di atas stadion megah
Diatas lahan rakyat pun jadi
Sepak bola adalah kebahagiaan bersama

TIPS MEN-DRIBLE DALAM SEPAK BOLA


TIPS MEN-DRIBLE BOLA
Dribe atau menggiring bola adalah menguasai bola dengan berlari dan tetap menjaga posisi bola agar tetap berada dekat dan dalam penguasaan kita. Teknik drible ini biasanya digunakan untuk..... melewati/mengecoh lawan. Kita bisa melakukan latihan drible dengan cara yang bervariasi, contoh : buatlah 4 sampai 5 penghalang berjarak sama, kemudian mulailah mendrible bola (menggiring)melewati penghalang tersebut dengan gerakan zig-zag. Usahakan bola jangan sampai menyentuh penghalang. Pada awal latihan, penghalang bisa dibuat dengan jarak yang agak lebar. Jika sudah merasa lancar jarak penghalang bisa dipersempit.
Berikut ini adalah beberapa Tips dalam men-drible :
1. Pertahankan pusat gravitasi (gaya berat).
Pusat gravitasi sangat penting dalam skill men-drible bola. Sebagai gambaran bagaimana hal itu bekerja, coba kita tarik garis khayal/bayangan dari batang tubuh kita ke tanah. Maka pusat tersebut akan ditempatkan di antara kedua kaki kita, apabila kita menutup kedua kaki maka garis/pusat tersebut akan berada diluar kemudian kita akan jatuh (hilang keseimbangan). Akan tetapi jika kita membuka kaki atau jongkok sedikit maka kita bisa mempertahankannya.
2. Pelajari pergerakan lawan.
Sangat penting membaca dan mempelajari gerakan lawan sebelum bermain sesungguhnya. Terutama bila belum pernah bertemu, usahakan memata-matai cara pergerakan secara langsung ataupun rekaman pertandingan.
3. Jangan sering memainkan gerakan drible yang sama.
Ketika bermain, usahakan jangan melakukan gerakan drible yang sama lebih dari 2 (dua) kali pada lawan yang sama karena lawan akan cepat mempelajari gerakan tersebut.
4. Selalu melihat arah pergerakan.
Jangan melihat bola saat men-drible. Tetap fokus pada arah kemana akan bergerak, juga perhatikan gerakan lawan.
5. Tetap menjaga bola dekat dengan kaki.
Usahakan bola selalu dekat dengan kaki kita, bola yang terlalu jauh dari jangkauan akan mudah direbut oleh pemain lawan.
6. Gunakan kedua kaki.
Apabila ingin men-drible bola dengan baik gunakan kedua kaki, maksudnya kedua kaki harus aktif secara bergantian / variatif mengolah bola. Hal ini akan membuat lawan bingung membaca gerakan kita.
7. Jangan terlalu prediktif/meramalkan
Dalam permainan sepak bola sesungguhnya segala hal bisa saja terjadi. Oleh karena itu improvisasi dalam gerakan drible sangat diperlukan, jangan terfokus pada satu macam gerakan.

Jadwal Liga Italia Seri A


Jadwal Lengkap Liga Italia Seri A 2010 – 2011

Giornata 1
29/8/10 dan 16/1/11
Bari-Juventus
Bologna-Inter
Chievo-Catania
Fiorentina-Napoli
Milan-Lecce
Palermo-Cagliari
Parma-Brescia
Roma-Cesena
Sampdoria-Lazio
Udinese-Genoa
Giornata 2
12/9/10 dan 23/1/11
Brescia-Palermo
Cagliari-Roma
Catania-Parma
Cesena-Milan
Genoa-Chievo
Inter-Udinese
Juventus-Sampdoria
Lazio-Bologna
Lecce-Fiorentina
Napoli-Bari
Giornata 3
19/9/10 dan 30/1/11
Bari-Cagliari
Cesena-Lecce
Chievo-Brescia
Fiorentina-Lazio
Milan-Catania
Palermo-Inter
Parma-Genoa
Roma-Bologna
Sampdoria-Napoli
Udinese-Juventus
Giornata 4
22/9/10 dan 2/2/11
Bologna-Udinese
Brescia-Roma
Cagliari-Sampdoria
Catania-Cesena
Genoa-Fiorentina
Inter-Bari
Juventus-Palermo
Lazio-Milan
Lecce-Parma
Napoli-Chievo
Giornata 5
26/9/10 dan 6/2/11
Bari-Brescia
Catania-Bologna
Cesena-Napoli
Chievo-Lazio
Fiorentina-Parma
Juventus-Cagliari
Milan-Genoa
Palermo-Lecce
Roma-Inter
Sampdoria-Udinese
Giornata 6
3/10/10 dan 13/2/11
Bologna-Sampdoria
Chievo-Cagliari
Fiorentina-Palermo
Genoa-Bari
Inter-Juventus
Lazio-Brescia
Lecce-Catania
Napoli-Roma
Parma-Milan
Udinese-Cesena
Giornata 7
17/10/10 dan 20/2/11
Bari-Lazio
Brescia-Udinese
Cagliari-Inter
Catania-Napoli
Cesena-Parma
Juventus-Lecce
Milan-Chievo
Palermo-Bologna
Roma-Genoa
Sampdoria-Fiorentina
Giornata 8
24/10/10 dan 27/2/11
Bologna-Juventus
Chievo-Cesena
Fiorentina-Bari
Genoa-Catania
Inter-Sampdoria
Lazio-Cagliari
Lecce-Brescia
Napoli-Milan
Parma-Roma
Udinese-Palermo
Giornata 9
31/10/10 dan 6/3/11
Bari-Udinese
Brescia-Napoli
Cagliari-Bologna
Catania-Fiorentina
Cesena-Sampdoria
Genoa-Inter
Milan-Juventus
Palermo-Lazio
Parma-Chievo
Roma-Lecce
Giornata 10
7/11/10 dan 13/3/11
Bari-Milan
Bologna-Lecce
Fiorentina-Chievo
Inter-Brescia
Juventus-Cesena
Lazio-Roma
Napoli-Parma
Palermo-Genoa
Sampdoria-Catania
Udinese-Cagliari
Giornata 11
10/11/10 dan 20/3/11
Brescia-Juventus
Cagliari-Napoli
Catania-Udinese
Cesena-Lazio
Chievo-Bari
Genoa-Bologna
Lecce-Inter
Milan-Palermo
Parma-Sampdoria
Roma-Fiorentina
Giornata 12
14/11/10 dan 3/4/11
Bari-Parma
Bologna-Brescia
Cagliari-Genoa
Fiorentina-Cesena
Inter-Milan
Juventus-Roma
Lazio-Napoli
Palermo-Catania
Sampdoria-Chievo
Udinese-Lecce
Giornata 13
21/11/10 dan 10/4/11
Brescia-Cagliari
Catania-Bari
Cesena-Palermo
Chievo-Inter
Genoa-Juventus
Lecce-Sampdoria
Milan-Fiorentina
Napoli-Bologna
Parma-Lazio
Roma-Udinese
Giornata 14
28/11/10 dan 17/4/11
Bari-Cesena
Bologna-Chievo
Brescia-Genoa
Cagliari-Lecce
Inter-Parma
Juventus-Fiorentina
Lazio-Catania
Palermo-Roma
Sampdoria-Milan
Udinese-Napoli
Giornata 15
5/12/10 dan 23/4/11
Catania-Juventus
Cesena-Bologna
Chievo-Roma
Fiorentina-Cagliari
Lazio-Inter
Lecce-Genoa
Milan-Brescia
Napoli-Palermo
Parma-Udinese
Sampdoria-Bari
Giornata 16
12/12/10 dan 1/5/11
Bologna-Milan
Brescia-Sampdoria
Cagliari-Catania
Genoa-Napoli
Inter-Cesena
Juventus-Lazio
Lecce-Chievo
Palermo-Parma
Roma-Bari
Udinese-Fiorentina
Giornata 17
19/12/10 dan 8/5/11
Bari-Palermo
Catania-Brescia
Cesena-Cagliari
Chievo-Juventus
Fiorentina-Inter
Lazio-Udinese
Milan-Roma
Napoli-Lecce
Parma-Bologna
Sampdoria-Genoa
Giornata 18
6/1/11 dan 15/5/11
Bologna-Fiorentina
Brescia-Cesena
Cagliari-Milan
Genoa-Lazio
Inter-Napoli
Juventus-Parma
Lecce-Bari
Palermo-Sampdoria
Roma-Catania
Udinese-Chievo
Giornata 19
9/1/11 dan 22/5/11
Bari-Bologna
Catania-Inter
Cesena-Genoa
Chievo-Palermo
Fiorentina-Brescia
Lazio-Lecce
Milan-Udinese
Napoli-Juventus
Parma-Cagliari
Sampdoria-Roma



Kamis, 06 Oktober 2011

About Milan

A.C. Milan


A.C. Milan
AC Milan crest
Full name Associazione Calcio Milan S.p.A.[1]
Nickname(s) i Rossoneri (The Red and Blacks)
il Diavolo
(The Devil)
Casciavit
(Lombard for: Screwdrivers)
Founded December 16, 1899; 111 years ago[2]
Ground San Siro, Milan
(Capacity: 80,018)
Owner Silvio Berlusconi[3]
President Vacant[1]
Head coach Massimiliano Allegri[4]
League Serie A
2010–11 Serie A, 1st
Website Club home page

Home colours
Away colours
Third colours
Current season
Associazione Calcio Milan, commonly referred to as A.C. Milan or simply Milan (Italian pronunciation: [ˈmiːlan]), is a professional Italian football club based in Milan, Lombardy, that plays in the Serie A. Milan was founded in 1899 by English lace-maker Herbert Kilpin and businessman Alfred Edwards among others.[5][6] The club has spent its entire history, with the exception of the 1980–81 and 1982-83 seasons, in the top-flight of Italian football, known as Serie A since 1929.[5]
They are the current Italian football champions, and are the most successful club in world football in terms of international trophies along with Boca Juniors, with 18 officially recognized UEFA and FIFA titles.[7] Milan has won four world titles,[7] more than any other club in the world, having won the Intercontinental Cup three times and the FIFA Club World Cup once.[7] Milan also won the European Cup/Champions League on seven occasions,[7] second only to Real Madrid.[8] They also won the UEFA Super Cup a record five times and the Cup Winners' Cup twice.[7] Milan won every major competition in which it has competed, with the exception of the Europa League in which they lost two semifinals. Domestically, with 18 league titles Milan is the joint-second most successful club in Serie A behind Juventus (27 titles), along with local rivals Inter.[9] They have also won the Coppa Italia five times, as well as a record six Supercoppa Italiana triumphs.[7] Furthermore, Milan is the only team to have won the Serie A without losing a game, doing so in 1991-92 during a 58-match unbeaten run.
Milan's home games are played at San Siro, also known as the Stadio Giuseppe Meazza. The stadium, which is shared with Inter, is the largest in Italian football, with a total capacity of 80,018.[10] Inter are considered their biggest rivals, and matches between the two teams are called Derby della Madonnina, which is one of the most followed derbies in football.[11] As of 2010, Milan is the third most supported team in Italy,[12] and the seventh most supported team in Europe, ahead of any other Italian team.[13]
The owner of the club is Italian Prime Minister Silvio Berlusconi, and the vice-president is Adriano Galliani. Milan is one of the wealthiest and most valuable clubs in Italian and world football.[14] Milan was a founding member of the now-defunct G-14 group of Europe's leading football clubs as well as its replacement, the European Club Association.[15]

History

A black and white picture of Herbert Kilpin, the first captain of A.C. Milan
Herbert Kilpin, the first captain of A.C. Milan
The club was founded as a football and cricket club on December 16, 1899 by British expatriates Alfred Edwards and Herbert Kilpin,[6] who came from the British city of Nottingham. In honor of its British origins, the club has retained the English spelling of the city's name, as opposed to the Italian spelling Milano which it was forced to bear under the fascist regime. Milan won its first Italian championship in 1901 and a further two in succession in 1906 and 1907.[5]
In 1908, Milan experienced a split caused by internal disagreements over the signing of foreign players, which led to the forming of another Milan-based team, Internazionale.[16] Following these events, Milan did not manage to win a single domestic title until 1950–51.[7] The 1950s saw the club return to the top of Italian football, headed by the famous Gre-No-Li Swedish trio Gunnar Gren, Gunnar Nordahl and Nils Liedholm. In 1963, Milan won its first continental title by beating Benfica in the final of the European Cup.[17] This success was repeated in 1969, and followed by an Intercontinental Cup title the same year.[7] After the retirement of Gianni Rivera in 1979, Milan went into a period of decline, during which it was involved in the 1980 Totonero scandal and relegated to Serie B as punishment,[18] for the first time in its history. The scandal was centered around a betting syndicate paying players and officials to fix the outcome of matches.[18] Milan quickly returned to Serie A, but was again relegated to Serie B one year later as the team ended its 1981–82 campaign in third last place.
On February 20, 1986 entrepreneur Silvio Berlusconi acquired the club and saved it from bankruptcy investing vast amounts of money,[5] appointing rising manager Arrigo Sacchi at the helm of the Rossoneri and signing the Dutch trio of Ruud Gullit, Marco van Basten and Frank Rijkaard.[5] This was the beginning of arguably the most successful era in Milan's history, as they won eight domestic titles, one Coppa Italia, five Supercoppa Italiana, five Champions League trophies, five UEFA Super Cups, two Intercontinental Cups and one FIFA Club World Cup.[7] That successful team has been voted the best club side of all time, in a global poll of experts conducted by World Soccer magazine.[19] It had reached its peak in one Milan's most memorable matches of all time, the famous 4-0 win over F.C. Barcelona in the 1994 UEFA Champions League Final. In the 1998-99 season, after a two-year period of decline, Milan lifted its 16th championship in the club's centenary celebrations.
More recently, the club was involved in the 2006 Serie A scandal, nicknamed Calciopoli, where five teams were accused of fixing matches by selecting favorable referees.[20] A police inquiry excluded any involvement of Milan managers,[21] but FIGC unilaterally decided that it had sufficient evidence to charge Milan vice-president, Adriano Galliani. As a result, Milan was initially punished with a 15 point deduction and consequently did not qualify for the Champions League. An appeal saw that penalty reduced to eight points,[22] which allowed the club to retain its 2006–07 Champions League participation. Milan subsequently won the competition, lifting the European Cup for the seventh time.[23]
Following the aftermath of Calciopoli, local rivals Internazionale dominated Serie A, winning four Scudetti. However, with the help a strong squad boasting players such as Zlatan Ibrahimović, Robinho and Alexandre Pato joining many of the old-guard, Milan recaptured the Scudetto in the 2010-11 Serie A season, their first since the 2003-04 season, and 18th overall.[24][25]

Colors and badge

Shirt worn by Milan in 2006-07 Champions League Final
Red and black are the colors which represented the club throughout its entire history. They were chosen to represent the players' fiery ardor (red) and the opponents' fear to challenge the team (black). Rossoneri, the team's widely-used nickname, literally means "the red & blacks" in Italian, in reference to the colors of the stripes on its jersey.[26]
Another nickname derived from the club's colors is the Devil. An image of a red devil was used as Milan's logo at one point with a Golden Star for Sport Excellence located next to it.[27] As is customary in Italian football, the star above the logo was awarded to the club after winning 10 league titles, in 1979. For many years, Milan's badge was simply the Flag of Milan, which was originally the flag of Saint Ambrose.[27] The modern badge used today represents the club colors and the flag of the Comune di Milano, with the acronym ACM at the top and the foundation year (1899) at the bottom.[27]
White shorts and black socks are usually worn as part of the home strip. Milan's away strip has always been completely white. It is considered by both the fans and the club to be a lucky strip in Champions League finals, due to the fact that Milan has won six finals out of eight in an all white strip (losing only to Ajax in 1995 and Liverpool in 2005), and only won one out of three in the home strip. The third strip, which is rarely used, changes yearly, being mostly black with red trimmings in recent seasons.

Stadium

Stadio Giuseppe Meazza
San Siro
An external view of the San Siro stadium
Location Via Piccolomini 5,
20151 Milan, Italy
Broke ground 1925
Opened 19 September 1926
Renovated 1939, 1955, 1989
Owner Municipality of Milan
Operator AC Milan and Internazionale
Construction cost ₤5,000,000 (1926), ₤5,100,000 (1939), $60,000,000 (1989)
Architect Ulisse Stacchini (1925), Giancarlo Ragazzi (1989), Enrico Hoffer (1989)
Capacity 80,018 seated
Tenants
AC Milan (1926–present), Internazionale (1947-present)
The team's stadium is the 80,018 seat San Siro, officially known as Stadio Giuseppe Meazza after the former player who represented both Milan and Internazionale. The more commonly used name, San Siro, is the name of the district where it's located. San Siro has been the home of Milan since 1926, when it was privately built by funding from Milan's president at the time, Piero Pirelli. Construction was performed by 120 workers, and took 13 and a half months to complete. The stadium was owned by the club until it was sold to the city council in 1935, and since 1947 has been shared with Internazionale, when the other major Milanese club was accepted as joint tenant.
The first game played at the stadium was on 19 September 1926, when Milan lost 6-3 in a friendly match against Internazionale. Milan played its first league game in San Siro on September 19 1926, losing 1-2 to Sampierdarenese. From an initial capacity of 35,000 spectators, the stadium has undergone several major renovations, most recently in preparation for the 1990 FIFA World Cup when its capacity was set to 85,700, all covered with a polycarbonate roof. In the summer of 2008 its capacity has been reduced to 80,018, in order to meet the new standards set by UEFA.
Based on the English model for stadiums, San Siro is specifically designed for football matches, as opposed to many multi-purpose stadiums used in Serie A. It is therefore renowned in Italy for its fantastic atmosphere during matches, thanks to the closeness of the stands to the pitch. The frequent use of flares by supporters contributes to the atmosphere but the practice has occasionally caused problems.
On 19 December 2005, Milan vice-president and executive director Adriano Galliani announced that the club is seriously working towards a relocation. He said that Milan's new stadium will be largely based on the Veltins-Arena and will follow the standards of football stadiums in the United States, Germany and Spain. As opposed to many other stadiums in Italy, Milan's new stadium will likely be used for football only, having no athletics track. The new stadium's naming rights will be probably sold to a sponsor, similarly to Arsenal's Emirates Stadium.[28] It remains to be seen if this plan will proceed or if this is just a ploy to force the owners (Comune di Milano) to sell the stadium to Milan for a nominal fee so as to proceed with extensive renovations. The possibility of Internazionale vacating San Siro may affect proceedings.

Supporters and rivalries

Milan banner saying "Inter, the true comedy since 1908," with a caricature of Dante
Milan is one of the best supported football clubs in Italy, according to research conducted by Italian newspaper La Repubblica.[29] Historically, Milan was supported by the city's working-class and trade unionists,[30] a section of whom were migrants from Southern Italy. On the other hand, crosstown rivals Internazionale were mainly supported by the more prosperous and typically Milanese middle-class.[30] One of the oldest ultras groups in all of Italian football, Fossa dei Leoni, originated in Milan.[31] Currently, the main ultras group within the support base is Brigate Rossonere.[31] Politically, Milan ultras have never had any particular preference,[31] but the media traditionally associated them with the left-wing,[32] until recently, when Berlusconi's presidency somewhat altered that view.[33]
According to a study from 2010, Milan is the most supported Italian team in Europe and seventh overall, with over 18.4 million fans.[13]
Genoa fans consider Milan a hated rival after Genoa fan, Vincenzo Spagnolo was stabbed to death by a Milan supporter in January 1995.[34] However, Milan's main rivalry is with neighbor club, Internazionale; both clubs meet in the widely anticipated Derby della Madonnina twice every Serie A season. The name of the derby refers to the Blessed Virgin Mary, whose statue atop the Milan Cathedral is one of the city's main attractions. The match usually creates a lively atmosphere, with numerous (often humorous or offensive) banners unfolded before the start of the game. Flares are commonly present and contribute to the spectacle but they have occasionally led to problems, including the abandonment of the second leg of the 2004–05 Champions League quarterfinal match between Milan and Inter on 12 April 2005, after a flare thrown from the crowd by an Inter supporter struck Milan keeper Dida on the shoulder.[35]

Powered By Blogger

Teks untuk tes

Template by - Abdul Munir - 2008 - layout4all